Welcome to my Life

Selasa, 28 Februari 2012

FILSAFAT ABAD KE 19 DAN KE-20


A.   Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri kapan filsafat modern dimulai. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisi zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai dengan munculnya gerakan Renaissance  yang artinya lahir kembali. Dengan bergulirnya zaman dan terus abad berganti abad yang diisi dengan berbagai macam ragam filsafat sampai kepada abad ke-18 dan abad ke-20, muncullah berbagai aliran pemikiran : Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Positivisme, Evolutionisme, Idealisme (Jerman), Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat hidup, Fenomenologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomisme.
Dalam pembahasan makalah ini kami akan mengangkat pembahasan tentang Filsafat Abad Ke-19 dan ke-20 yang berisi tentang aliran filsafat Idealisme Jerman, Neo-Kantianisme, Filsafat Hidup dan Neo-Thomisme.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum yang diberikan oleh dosen pengajar Bapak Hamlan, S. Ag. dan agar penulis lebih memahami tentang Filsafat Umum.
C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis mengambil metode kepustakaan yakni mengumpulkan buku-buku yang diperoleh dari perpustakaan.

BAB II
FILSAFAT ABAD KE - 19 DAN  20

A. Filsafat Abad Ke-19
Pada abad ke 19 (1770 – 1900), ilmu - ilmu pengetahuan berhasil memperoleh hukum-hukum yang pasti, tetap, dan kekal. Namun metafisika ternyata tidak mendapat hasil yang tetap disebabkan karena aliran-aliran lain selalu menentang sifat-sifat objektif pasti dan umum. Ilmu pengetahuan tak dapat dijelaskan oleh rasionalisme dan empirisme. Maka untuk membela kepastian ilmu tata kesusilaan dan ke agamaan, mengajukan persoalan kritis mengenai kekuatan manusia.
B. Filsafat Abad Ke-19
Sekitar tahun 1900 pemikiran filsafat berganti haluan, pandangan dunia yang, materialitas dan mechanistis ditinggalkan. Metode positip dan filsafat dan ilmu-ilmu kebudayaan diganti dengan metode analisis dan keyakinan bahwa ilmu-ilmu alam tidak dapat memberikan penjelasan yang lengkap dari seluruh kenyataan yang makin kuat.
Sifat-sifat filsafat abad ke- 20 adalah lawannya dari sifat-sifat filsafat abad ke- 19 yang anti posibivistis, tidak mau bersistem, realities, menitik beratkan pada manusia, prulalistis (lawannya monistis) yang menyatakan bahwa semua adalah satu contohnya filsafat abad ke- 19 dan ke- 20 tanotisme dan filsafat manotis (saluran antara latermenesme dengan beterkanesme).     
C. Idealisme Jerman
Adanya idealisme jerman ditandai dengan timbulnya cara berfikir yang “hustoris” dan “dialektis sehingga kemajuan ilmu-ilmu alam membawa kearah yang positif.
Tokoh-tokoh Idealisme Jerman diantaranya :
1.  FIEHTE (1762 – 1814)
Menurut johan Gottlieb Feite dasar realitas adalah kemauan manusia. Sedangkan menampakkan ialah sesuatu yang ditanamkan oleh roh absolute sebagai penampakan kemauan roh absolute yang di maksud ialah sesuatu yang ada di belakang kita yaitu tuhan.
Filsafat Bagifeite adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral Idealisme dan moral materialisme. Idealisme adalah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri. Sedangkan subtansi/moral materialisme adalah naluri, kenikmatan yang tak bertanggung jawab pada keadaan.
Menurut Friedrich Wilhelm Joseph Schelling, realitas adalah edintik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dealrektis. Filsafat Schelling berkembang melalui 5 tahap yaitu :
a.     Idealisme subjek, yaitu mengikuti pemikiran Fichate
b.     Filsafat alam, yaitu menerapkan prinsip atraksi dna repulse dalam berbagai problem filsafat dari saint.
c.      Idealisme transedental/ idealisme objektif, yaitu tentang memperhatikan pendapatannya.
d.     Filsafat idealisme yaitu sebagai idealisme semua individu isi alam.
e.      Filsafat positif yaitu menemukan nilai mitologi (mengakui perbedaan yang jelas) antara Tuhan dan alam semesta.
2.  HEGEL (1770-1831)
Idealisme jerman memuncak pada masa George welhwm Friedrich Hegel. Dia disebut sebagai filosof terbesar abad ke- 19. Pusat Filsafat Hegel adalah konsep-geist (roh, spirit).
Seperti telah diuraikan dalam bab sebelumnya filsafat Kantmemuat kritikdan sekaligus atau seluruh Filsafat sebelumnya. Pertikaian antara Rasionalisme dan imperisme ditangani kant dengan kritisismenya yang memberi tempat pada unsur Hapostriori dan unsure Apriori dalam pengetahuan.
Namun dalam Filsafat Kant tampak pada peranan unsur Apriori lebih besar dibandingkan unsur Hapostriori makin tinggi tingkatan pengetahuan makin berkurang peran unsure Hapostriori dengan demikian tidak mengherankan bila didalam sejarah filsafat pada abad ke- 19 muncul suatu aliran pemikiran baru yaitu Idealisme Jerman aliran yang berasal dari Jerman ini sehingga disebut Idealisme jerman pada dasarnya pemikiran kant subjek lah yang berperan dalam pembentukan dan memberi struktur pada rialitas dengan kata lain seluruh rialitas bersifat subjektif sebab keberadaannya bergantung kepada kesadaran subjektif bukan kepada Rialitas itu sendiri.
Demikian ajaran pokok dari para penganut Idealisme Jerman pada umumnya meskipun system mereka berbeda-beda karena masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang subjektif absolute
-         Fichts (1762-1814) menyebutkan “kata absolute”
-         F.w.j Schelling (1775-1854) menyebutkan “Identitas absolute”
-         G.W.F. Hegel (1770-1831) menyebutkan memakai istilah ROH Absolute/Ide dalam sistem Fichts moralitas dan sejarah menjadi tema utama dalam pemikirannya. Schelling memekakan pada unsur seni dan mistik sedangkan Hegel pada Rasio dalam bayang-bayang Idealisme Jerman posisi Schopenhauer (1788-1860) memerlukan catatan tersendiri pada abad 19 ini.
D. Neo- Kantialisme
Setelah Materialisme pengaruhnya merajalela, pada murid Kant mengadakan gerakan lagi. Banyak filosof Jerman yang tidak puas terhadap Materialisme, Positivisme, dan Idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi Idealisme dan bebas dari dogmatis Positivisme dan Materialisme. Gerakan inilah disebut Neo-Kantianisme, sebagai tokohnya : Wilhelm windelband (1848-1915), Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939).
Herman Cohen memberikan titik tolak pemikirannya mengemukakan bahwa keyakinannya  kepada otoritas akal manusia untuk mencipta. Mengapa demikian, karena segala sesuatu itu baru dikatakan ‘ada’ apabila terlibat dahulu dipikirkan. Artinya, ‘ada’ dan ‘dipikirkan’ adalah sama sehingga apa yang dipikirkan akan melahirkan isi pikiran. Tuhan, menurut pendapatnya, bukan sebagai person tetapi sebagai cita-cita dari seluruh perilaku manusia.
E. Filsafat Hidup
Aliran filsafat ini lahir akibat dari reaksi dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan toknologi yang menyebabkan industralisasi semakin pesat. Hal ini mempengaruhi pola pemikiran manusia. Peranan akal pikir hanya digunakan untuk menganalisis sampai menyusun suatu sintesis baru. Bahkan alam semesta atau manusia dianggap sebagai mesin, yang tersusun dari beberapa komponen, dan bekerja sesuai dengan hukum-hukumnya.
Tokohnya adalah Henry Bergson (1859-1941). Pada mulanya ia belajar matematika dan fisika, karena ia mempunyai kepandaian menganalisis muncul masalah baru dalam pikirannya. Yaitu, ia dihadapkan pada masalah metafisika yang tidak tampak dan tempatnya di belakang ilmu pengetahuan. Itulah yang menyebabkan ia terjun ke dalam bidang filsafat.
Pemikirannya, alam semesta ini merupakan suatu organisme yang kreatif, tetapi perkembangannya tidak sesuai dengan keadaan tidak sama. Sehingga melahirkan akibat-akibat dengan spektrum yang baru. Hanya ada beberapa saja yang berhasil dapat membentuk suatu organisme yang kreatif yang sesuai dengan hukum alam. Salah satunya adalah manusia dengan intelektualnya, dan mengapa manusia dapat lolos dari seleksi alam? Karena dalam eksistensinya, manusia mempunyai daya hidup (elan vital). Dengan adanya elan vital tersebut diharapkan manusia akan mampu melahirkan segala tindakannya.
Pemikiran filsafat Henry Bergson ini sebagai reaksi dari Positivisme, Materialisme, Subyektivitas, dan Relavitisme. Kemudian ia mengupayakan, dengan melalui yang positif (ilmu) tersebut untuk menyalami yang mutlak dalam pengetahuan matefisika. Ia mempertahankan kebebasan dan kemerdekaan kehendak.
John Dewey (1859-1952)
Ia lahir di Brulineton, dan sekaligus menjadi guru filsafat.
Pemikirannya, tugas filsafat adalah memberikan pengaruh dalam tindakan hidup manusia. Untuk itu, filsafat tidak boleh berada dalam pemikiran metafisika yang tidak ada manfaatnya. Dengan demikian, filsafat harus berasaskan pada pengalaman, kemudian mengadakan penyelidikan, mampu memberikan suatu sistem norma-norma dan nilai-nilai.
F. Neo-Thomisme
Pada pengetahuan abad ke- 19, di tengah-tengah gereja Katolik banyak penganut paham Thomisme, yaitu aliran yang mengikuti paham Thomas Aquinas. Pada mulanya di kalangan gereja terdapat semadam keharusan untuk mempelajari ajaran tersebut. Kemudian akhirnya menjadi suatu paham Thomas, yaitu : pertama: paham yang menganggap bahwa tujuan Thomas sudah sempurna. Sebagai tugas kita adalah memberikan tafsir sesuai dengan keadaan zaman. Kedua, paham yang menganggap bahwa walaupun ajaran Thomas telah sempurna akan tetapi masih terdapat hal-hal yang pada suatu saat belum dibahas. Sehingga sekarang perlu diadakan penyesuaian sehubungan dengan pekembangan ilmu pengetahuan Thomas harus diikuti, akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajaran betul-betul sempurna.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.     Idealisme jerman memuncak pada masa George welhwm Friedrich Hegel. Dia disebut sebagai filosof terbesar abad ke- 19. Pusat Filsafat Hegel adalah konsep-geist (roh, spirit).
2.     Banyak filosof Jerman yang tidak puas terhadap Materialisme, Positivisme, dan Idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi Idealisme dan bebas dari dogmatis Positivisme dan Materialisme. Gerakan inilah disebut Neo-Kantianisme, sebagai tokohnya : Wilhelm windelband (1848-1915), Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924), Heinrich Reickhart (1863-1939).
3.     Filsafat hidup adalah aliran filsafat yang lahir akibat dari reaksi dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan toknologi yang menyebabkan industralisasi semakin pesat.
4.     Pada pengetahuan abad ke- 19, di tengah-tengah gereja Katolik banyak penganut paham Thomisme, yaitu aliran yang mengikuti paham Thomas Aquinas.
5.     Pertama: paham yang menganggap bahwa tujuan Thomas sudah sempurna. Kedua, paham yang menganggap bahwa walaupun ajaran Thomas telah sempurna akan tetapi masih terdapat hal-hal yang pada suatu saat belum dibahas.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Asmoro. 2003. Filsafat Umum. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Frasetya, 1997. Filsafat Pendidikan . Bandung  : Pustaka Setia.
Syadali Ahmad. Drs.H,MA. Mudzakir. Drs. 1997. Filsafat Umum. Bandung : Pustaka Setia.
gn:jus< � ; e �We �e : 18.0pt;line-height:150%'>Neo-platonisme dengan unsur-unsur tersebut datang dan bersatu dengan kaum muslimin melalui aliran masehi timur dekat, tetapi dengan baju lain, yaitu tasawuf timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, yang pertama dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya.
Perbeadaan neo-platonisme dengan aliran iskandari yang berkembang sejak pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 ialah:
Neo-Platonisme
Aliran Iskandariah
1.     berkisar pada segi metafisika pada filsafat yunani yang mungkin dalam beberapa hal berlawanan dengan agama masehi.
2.     lebih banyak mendasarkan pikirannya pada seleksi dan pemaduan
1.     lebih condong kepada matematika serta ilmu alam, meninggalkan lapangan metafiika, dan tidak berlawanan dengan agama masehi.
2.     lebih banyak membuat ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat.
 Platinus adalah tokoh yang terpenting. Ia mendasarkan atas dua dialektika (dua jalan), yaitu:
-         Dialektika menurun
-         Dilektika menarik
Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskn wujud tertinggi (the Highest Being, atau the First, atau At-Tabiatul-ula, atau Wujudul Awwal) dan cara keluarnya alam dari-Nya.
Dengan penjelasan terhadap wujud tertinggi itu Platonus terkenal dengan teorinya Yang Esa atau Esanya  Platonus. Dengan penjelasan kedua, yaitu keluarnya alam dari Yang Esa, ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua wujud, termasuk didalamnya wujud pertama (Tuhan), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat erat, dan terkenal dengan istilah kesatuan wujud (wihdatul-wujud).
Pada akhir masa kuno. Neo-platonisme merupakan aliran intelektual yang dominan di hampir seluruh wilayah Hellenistik, sehingga seakan-akan neo-platonisme bersaingan dengan pandangan dunia yang berdasarkan agama kristen. Perhyrios (232-301 M) murid platinus menulis suatu karya yang dengan tajam menyerang agama kristen.
Namun pada tahun 529 M kaisar Jurtianus dari Byzantium pelindung agama kristen menutup semua sekolah filsafat Yunani di Athena. Peristiwa itu diangagap sebagai akhir masa yunani purba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar