TANAH ADAT
Diangkat dari
Cerpen “Bawin Balian”
Karya A. Setia
Budhi
Di sadur oleh
Beruhuy Loeka’as
Martapura, 21 November 2016
Para Pelaku :
1.
Ulak Bawi, Bawin balian
2.
Ayuh, Cucu dari
Saudara Ulak Bawi
3.
Eme, Perempuan muda
yang sering menemani Ulak Bawi
4.
Ula, Perempuan muda
yang sering menemani Ulak Bawi
5.
Muna, Isteri pak
camat
6.
Idang, Pembantu pak
camat
BABAK PERTAMA
MUSIK KHAS DAYAK
PEDALAMAN MENGALUN (GAMELAN, KURIDING SERTA GELANG GIRING). TERDENGAR SAYUP-SAYUP
SUARA JERITAN MANUSIA-MANUSIA YANG KESAKITAN MENGHADAPI SAKARATUL MAUT.
LAMPU
MENYALA TEMARAM MENYOROT KE TENGAH BALAI
ULAK BAWI SEORANG
BALIAN PEREMPUAN SEDANG MELAKUKAN RITUAL, KEMUDIAN DIA MULAI BEMAMANG LALU MENARI MENGITARI LUMBUNG-LUMBUNG
DITENGAH BALAI DENGAN SEBILAH MANDAU DI TANGANNYA .
LAMPU
PADAM TEMARAM
SUARA MAMANG ULAK BAWI TERDENGAR SAYUP-SAYUP
SEIRAMA DENGAN BUNYI (GAMELAN, KURIDING, GELANG GIRING)
LAMPU
MENYALA
DUA ORANG
PEREMPUAN DAYAK MERATUS BERDIRI BERHADAPAN, MEREKA MEMPERBINCANGKAN TEWASNYA
PULUHAH ORANG KARYAWAN PERKEBUNAN SAWIT, DAN BEBERAPA WARGA DAYAK YANG TURUT
MENJADI KORBAN. DAN PENYEBAB KEMATIAN ITUPUN TIDAK DIKETAHUI PERBUATAN SIAPA.
AKAN TETAPI BEBERAPA WARGA MENGANGGAP ITU BERKAITAN DENGAN ULAK BAWI SEBAGAI
BALIAN PEREMPUAN DI DUSUN. KARENA HANYA ULAK LAH YANG TERANG-TERANGAN MENENTANG
ADANYA PERKEBUNAN SAWIT DI TANAH ADAT ITU.
Ula
( dahinya mengerinyit
sedang berpikir kemudian menatap tajam ke arah eme dengan sedikit emosi)
Mana
mungkin Ulak yang membunuh seluruh karyawan perkebunan serta warga dayak dusun
bawah di sekitar perkebunan sawit itu, aku sangat tidak percaya. Dan apa yang
membuktikan bahwa Ulak pembunuhnya
Eme
Tapi
begitulah berita yang tersiar di dusun bawah, siapa lagi yang bisa melakukan
hal itu, mereka semua mati, tapi tidak ada tindak kekerasan. Jadi siapa lagi
kalau bukan Ulak pelakunya, Cuma dia yang mempunyai ilmu kesaktian di dusun
kita ini. Di tambah lagi Ulak sangat membenci adanya perkebunan sawit di dusun
kita. Yang mengambil tanah adat kita semua. Begitu yang aku dengar.
Ula
tapi
kenapa warga dayak di ujung dusun itu juga ikut menjadi korbannya, bahkan kelurganya sendiri, isteri Ayuh dan juga
cucunya pun turut menjadi korban, sangat
tidak mungkin Ulak tega membunuh warga beserta dan keluarganya sendiri.
Eme
hey
Ula. Kau tahu, Ulak Bawi pernah berkata keras kepada warga dusun bawah. Buat
apa kalian ikut bekerja di perusahaan sawit itu, kalian itu cuma diperalat
saja, Cuma sekian rupiah kalian dapatkan sedangkan pemiliknya berlimpah ruah
mendapatkan keuntungan.
Ula
kasian
Ayuh dia terlalu sibuk bekerja dihutan, hingga dia belum mengetahui berita
meninggal isteri dan anaknya, lantas apa lagi yang ia katakan kepada warga
dusun bawah.
Eme
Ulak
berkata, ini tanah adat, yang harus di jaga kesuciannya, Kalian tunggu saja,
nasib anak cucu warga dusun kita. Bahkan kemungkinan kehancuran suku kita semua
di tanah adat ini. Nah mungkin karena itu ulak dituduh sebagai pembunuhnya.
TANPA
SEPENGETAHUAN ULA DAN EME ULAK SUDAH BERDIRI DIDEPAN PINTU BALAI KEMUDIAN DIA
BERJALAN KETENGAH BALAI SAMBIL MEMBAWA BUTAH
DAN PERALATAN MENGINANG.
Ulak
Bawi
apa
yang kalian bicarakan, kalian juga jangan terhasut oleh mulut-mulut keserakahan
dan kemunafikan Eme, Ula. (acuh dan terus
berjalan kemudian duduk, lalu mengeluarkan bumbung air,beberapa daun sirih)
Ula
(memandang ulak
kemudian tertunduk sedikit)
Maafkan
kami ulak. Ulak dari mana
Ulak
Bawi
Aku
ke dusun bawah ula (terus memakan
sirih-sirih tanpa memperdulikan ula dan eme yang terheran-heran dengan
jawabannya itu)
ISTER
PAK CAMAT BESERTA PEMBANTUNYA DATANG KE BALAI UNTUK MENEMUI ULAK BAWI.
Pembantu
Pak Camat
Permisi
Ulak
Bawi
apa
lagi yang kau ingin kan muna, kau ingin membujukku lagi. Itu tak akan berhasil
muna.
Katakan
pada Pak Camat suamimu itu. Sampai kapanpun tanah di ujung sungai itu tetap
menjadi hak kami dan tidak akan kami lepaskan
Moena
bukan
itu maksud kedatanganku kesini Ulak, kami kesini Cuma mau bertanya apakah Ulak
sudah mengetahui sebab kematian karyawan-karyawan itu. Bukankah ulak sudah
mengadakan upacara untuk mencari tahu siapa pembunuhnya. (matanya mengarah tajam kepada ulak)
Ulak
Bawi
Dasar
kalian semua sama.! berhati busuk.! Kalian adalah maling yang sempurna,
memfitnah ku supaya aku pergi meninggalkan dusun ini, kemudian sedikit-sedikit
kalian akan menggerogoti tanah kami hingga seluruh warga meninggalkan kampung ini.
Ini kan rencana kalian semua!
Moena
Ulak.
Jangan salah sangka, janganlah ulak memprovokasi kembali warga seperti itu.
Ulak
Bawi (menatap tajam
kearah penonton kemudian ulak langsung mencabut
Mandau di tangannya)
Hah,
aku memprovokasi.? kalian tuduh aku telah berbuat dosa karena melawan pemerintah.!
dan kalian sebut aku menjadi provokatornya. (tersenyum
berat dan sinis. Biarlah semua orang
disini memanggilku provokator, tidak apa. Tapi mereka tetap datang kepadaku.
Dan semakin jelas sekarang posisi aku dan posisi kalian. (sambil mengcungkan mandau kea rah isteri pak camat)
Moena
(tertegun, terlihat
mimik puas dengan sedikit senyum di bibirnya, lalu berpandangan dengan
pembantunya kemudian ia meninggalkan balai)
Ulak
kami permisi.
ULAK
KEMBALI MENARI SAMBIL MEMAINKAN MANDAU DITANGAN KANAN DAN GELAS BAMBU DITANGAN
KIR KEMUDIAN IA MENINGGALKAN BALAI. TIDAK BERAPA LAMA AYUH DATANG DENGAN
MENENTENG TOMBAK DENGAN MUKA PENUH
KEMARAHAN.
Ayuh
(tatapan penuh
kemarahan)
Eme,
Ula apakah benar berita yang tersiar di dusun ini. Tentang uwakku ulak bawi
Ula
kau
jangan terhasut oleh mulut-mulut busuk itu Ayuh, tidak mungkin uwakmu tega
membunuh warga dusun bawah apalagi membunuh isteri dan anakmu.
Ayuh
begitukah
sikap seorang balian, yang seharusnya melindungi warga
Ula
Ayuh.!
Jaga mulutmu itu di itu uwakmu tak pantas kau berkata seperti itu. Sudah aku
bilang kau jangan termakan omongan mereka. Mereka Cuma menghasutmu saja Ayuh.
Ayuh
(berkata dengan keras
penuh emosi)
Ulak
Bawi harus bertanggung jawab atas
kematian anak dan isteriku Ula. Dimana dia Ula.?
Ula
Ayuh….!!!!!!!
AYUH
BERLALU MENINGGALKAN ULA DAN EME DI
BALAI MENCARI KEBERADAAN ULAK BAWI. ULAK BAWI KEMBALI KETENGAH BALAI DENGAN
MEMBAWA GELAS BAMBU. KEMUDIAN TERSENYUM SINIS SAMBIL MEMANDANGI GELAS ITU. TAK
BERAPA LAMA AYUH SECARA DIAM-DIAM MENDEKATI ULAK BAWI YANG LAGI DUDUK DI TENGAH
BALAI. SEMBARI MENCABUT MANDAU DI PINGGANGNYA HENDAK MEMBUNUH ULAK BAWI
Ulak
Bawi
Ayuh..kau
tak usah repot-repot membunuhku, aku juga pasti akan mati, kau juga akan mati,
dan seluruh warga tanah adat ini semua akan mati. Sama seperti seluruh karyawan
perusahaan itu. Ayuh kau jangan buta
dengan suara-suara manis dunia. Cobalah pahami siapa dalang di balik semua itu.
Uhkkk..uhkkk…Bruackkkkkkkkkkkkkkkk..
(Ulak Bawi muntah darah, kemudian ia
mencabut Mandau di pinggangnya dan mengayunkan kearah gadang pisang di tengah
balai). Ayuh, kau jangan termakan hasutan, seandainya bulan diletakkan di
atas tanganku. Aku tidak mungkin mau membunuh dan meracuni warga ku sendiri, lindungi
tanah adat kita ini dengan tanganmu. Untuk anak cucumu nanti dan suku kita..
ULAK
BAWI TERBARING KAKU HILANG SEGALANYA
NYAWA YANG ADA DALAM DIRINYA CUMA MANDAU DITANGANNYA YANG MENANCAP DI ATAS
GADANG PISANG.
LAMPU
PADAM TEMARAM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar