Welcome to my Life

Selasa, 28 Februari 2012

FILSAFAT UMUM HELLENISTIS, STOISISME, EPIKURISME, SKIPTISME,NEO-PLATONISME


HELLENISTIS

A.   Aliran Stoa / Stoisisme
Aliran ini didirikan di Athena oleh Zeno dari Kition (133 266 SM). Ia dilahirkan di Kition pada tahun 340 SM, dan meninggal di Athena pada tahun 264 SM. Ia mencapai umur 76 tahun.
Seperti dengan kaum Epikurus, kaum Stoa membagi filsafat dalam tiga bagian, yaitu logika, fisika dan etik. Logika dan fisika umumnya dipergunakan sebagai dasar etiknya. Etiknya ialah memberi petunjuk tentang sikap sopan santun dalam penghidupan. Menurut pendapat mereka, tujuan yang terutama dari segala filsafat ialah menyempurnakan moral manusia.
1)          Logika
Logika menurut kaum Stoa, maksudnya memperoleh kriterium tentang kebenaran. Dalam hal ini mereka mempergunakan juga teori reproduksi dari Demokritus.
Menurut kaum Stoa, ucapan Aristoteles adalah suatu dalil yang belum dinyatakan benarnya. Suatu Petitio Principil, yaitu menerima sesuatunya sebelum diterangkan . Kriterium bagi sesuatu kebenaran terletak pada evidensinya. Kenyataannya bahwa isi pemandangan itu terletak pada pikiran. Buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena, yaitu memaksa kita membenarkannya. Pemandangan yang benar ialah suatu pemandangan yang menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam, sehingga orang yang memandang itu terpaksa membenarkan dan menerima isinya.
Kaum Stoa bertentangan pendapatnya dengan Plato dan Aristoteles. Pengertian itu mempunyai realita, ada pada dasarnya. Ingat, misalkan ajaran Plato tentang idea. Pengertian Umum, sebagai perkumpulan, kampung, binatang dan lain sebagainya adalah suatu realita, benar adanya. Menurut kaum Stoa, pengertian umum itu tidak ada relitanya, semua itu hanya cetakan pikiran yang subyektif untuk mudah menggolongkan barang – barang yang nyata. Hanya barang – barang yang kelihatan yang mempunyai realita, nyata adanya. Orang laki – laki, orang perempuan, kuda putih, kucing hitam adalah suatu realita. Kumpulan jenis bukan suatu realita.. Pendapat kaum Stoa ini disebut dalam filsafat pendapat nasionalisme, sebagai lawan dari realisme.
2)          Fisika
Dalam aliran Stoa, masalah fisika tidak saja memberi pelajaran tentang alam, tetapi meliputi juga teologi. Menurut mereka bahwa alam mempunyai dua dasar yaitu yang bekerja dan yang dikerjakan. Yang bekerja ialah Tuhan dan yang dikerjakan ialah materi.
Menurut Kaum Stoa, alam semesta ini ditentukan oleh suatu kuasa yang disebut Legos (pikiran semesta). Oleh sebab itu semua kejadian tunduk kepada hukum alam yang berjalan.
Fisika kaum Stoa ini menjadi pandangan hidupnya. Oleh karena semua yang terjadi dalam dunia ini berlaku menurut hukum alam dan ratio, adanya Tuhan untuk keselamatan manusia, maka kaum Stoa mempunyai pandangan hidup yang optimis. Semuanya terjadi menurut kemestian dalam edaran yang tetap, terima itu dengan sabar dan gembira.
3)          Etik
Etika menurut kaum Stoa adalah untuk mencari dasar – dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat. Kemudian melaksanakan dasar- dasar itu dalam penghidupan. Kaum Stoa berpendapat, bahwa tujuan hidup yang tertinggi ialah memperoleh harta yang terbesar nilainya, yaitu kesenangan hidup. Kemerdekaan moril seseorang adalah dasar segala etik pada kaum Stoa.
Kaum Stoa mengatakan , bahwa moral itu baru sempurna kalau kesenangan masyarakat. Sesuai dengan itu mereka berpendapat, bahwa persekutuan sosial manusia, yaitu negara, adalah syarat pertama untuk melaksanakan budi yang terutama, yaitu keadilan. Tugas utama dari keadilan ialah menyempurnakan pergaulan manuisa. Pada tingkat itu terdapat lagi budi yang pokok, yaitu menyesuaikan saya dengan semuanya dengan sempurna. Siapa yang melaksanakan keadilan melenyapkan sekaligus pertentangan antara keperluan diri sendiri dan keperluan umum.
Pada tingkat itu terdapat lagi budi yang pokok, yaitu menyesuaikan saya dengan semuanya dengan sempurna. Siapa yang melaksanakan keadilan melenyapkan sekaligus pertentangan antara keperluan sendiri dan keperluan umum.
Oleh karena dalam tubuh semua manusia hidup suatu akal yang serupa, yang berkuasa sebagai suatu hukum umum dalam negara yang ideal, maka dapat pula berlaku hanya satu peraturan, satu hukum dan satu negara.
B.   Aliran Spicurus
Tokoh aliran ini bernama epicurus (341-270 SM). Ia dilahirkan pada tahun 341 SM di Samos dan meninggal di Athena pada tahun 270 SM
Mula-mula ia menjadi guru filosofi Mytilen dan Lampsakos. Pada tahun 300 SM, ia datang ke Athena dan mendirikan sebuah sekolah filosofi dengan nama Taman Kaum Epikurus.
Berlainan dengan Aristoteles, Epikurus tidak mempunyai perhatian terhadap penyelidikan ilmiah. Ia hany mempergunakan pengetahuan yang diperolehnya dan hasil penyelidikan ilmu yang sudah dikenal, sebagai membebaskan manusia dari ketakutan agama.
Sebagai orang yang berasal dari yonia. Ia banyak mengemukaakan pandangan filosofi alam Milesia, yang bersifat ateis. Terutma ia banyak memakai teori demokritus tentang atom dan geraknya dalam lapangan kosong. Titik berat daripada ajarannya terletak pada etik, soal tertib sopan dalam penghidupan, soal moral.
Menurut pendapat Epikurus, filosofi harus merintis jaln kearah mencapai kesenangan hidup. Filosofnya dibaginya dalam tiga bagian yaitu logika, fisiska, dan etik. Ajaran logiaknaya menjadi dasar fisika yang diajarkannya, fisika dasar bagi etik.
1)    Logika
Epikurus dalam menyebut logika menggunakan istilah kanonika. Logika harus melahirkan norma untuk pengetahuan dan kriteria untuk kebenaran. Norma dan kriteria itu diperoleh dari pemandangan. Dan oandanan menurut Epicurus bukan hanya yang kita lihat dengan mata, melainkan juga fntasi dan gambaran dalam angan-angan. Segala macm pndangn itu adalah benar, benar dalam jiwa orang yang memandang. Menurut pendapat ini, apa yang terpandang oleh seorang orang gila dalam dugaannya adalah nyata dan benar. Sesuai dengan pendapat demokritus ia mengatakan, bahwa pandangan itu tidak lain dari cetakan atau gambaran barang yang sudah ada.
Epikurus tak suka kepada teori-teori tentang bentuk pengertian dan isi pengetahuan. Ia menolak segala macam metode untuk menyatakan kebenaran yang menurut logikanyatidak dapat disangkal. Ia tidak mau tahu dengan silogisme yang begitu cerdas disusun oleh Aristoteles. Logiaknya tidak menerima kebenaran sebagai hasil pikiran kebenara hanya dicapai dengan pemandangan dan pengalman.
2)    Fisika
Dari ajaran fisika, Epicurus hendak membebaskan manusia dari kepercayaan pada dewa-dewa. Dengan ajaran itu dinyatakan, bahwa dunia ini bukan dijadikan dn dikuasai oleh dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh hukum-hukum fisika.
Manuisa hidupnya tidak bahagia karena terganggu oleh tiga hal: takut akan marah dewa, takut akan mati dan takut akan nasib. Pertama kita tak pelu kan marah dewa, karena segala sesuatu di dunia ini hanya karena sebab gerak atom bukan karena dewa. Keua terhdap mati pun manusia tak usah takut. Jiwa kita pun akan turut mati, sebab tanpa badan, tak ada pula jiwa. Habis hidup ini tak ada lagi lanjutannya bagi manusia. Maut malah akan melepaskan manusia dari sakit dan sengsara. Ketiga kepada nasib pun kita tak usah takut.segala kejadian di dunia ini di tentukan oleh gerak atom.
3)    Etika
Ajaran etikanya adalah mencari kesenangan hidup. Kesenangan hidup katnya ialah barang yang paling tinggi nilainy. Kesenangan hidup berarti kesenangan badaniah dan rohaniah. Badan merasa enak, jiwa merasa tentram.yang paling penting dan paling mulia ialah kesenangan jiwa, karena kesenangan jiwa meliputi masa sekarang masa yang lampau dan masa yang akan datang.
Tujuan etik Epicurus ini tidak lain dari didikan memperkuat jiwa untuk menghadapi segala rupa keadaan. Ia tetap berdiri sendiri dengan jiwa yang tenang, pndai memelihara tli persahabatn. Pengikut Epicurus tidak meneluh dan menangis pda meninggalnya orang yang dicintainya. Keteguhan jiwa itu diperolehnya dari keinsyafan, bahwa mati itu adalah tidak ada.yang tidak ada, karena tidak bernilai, tidak perlu dirindukan.
C.   Aliran Skeptisme
Skeptis artinya ragu-ragu, sak wasangka atau sangsi. Aliran ini berpendapat bahwa dibidang teoritis manusia tidak akan sanggup mencapai kebenaran. Pengethuan kita boleh dipercaya. Maka agar manusia berbahagia, haruslah tidak mengambil keputusan yang pasti tetapi haruslah selalu ragu-ragu. Mereka tidak mau terus atau langsung menerima ajaran-ajaran yng datang dari ahli-ahli filosof masa yang lampau.
Sebenarnya aliran ini tidak konsekuen dengan pendapatnya sendiri. Pada masa itu ada dua sekolah skeptis yang dalam beberapa hal berbeda dalam memberi maksud sikap ragu-ragu. Dua sekolah tersebut adalah pyrohon dan akademi.
1)    Sekolah skeptis Pyrrhon
Sekolah ini terdapat di Elis yang tokohnya bernama Pyrrhon lahir tahun 360 SM dan meninggal pada tahun 270 SM.
Pyrrhon mengajarkan bahwa kebenaran tidak dapat diduga. Kita harus sangsi terhadap sesuatu yang dikatakan orang benar. Sebagai alasan disebutnya, bahwa di luar ruang yang kosong dan atom yang bergerak , yang hanya dipikirkan oleh akal, tidak ada yang dapat diketahui engan pasti. Apa yang diterima dari orang ke orang. Rupanya saja benar. Karena itu orang harus sangsi terhadp hasil pikiran yang disebutbenar. Pikiran itu sendiri saling bertentangn. Hal ini cukup ternyta dalam pengalaman. Jalan sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup ialah menjauhkan diri dari mengambil keputusan, tentang menentukan apa yang dikatakan bagus dan buruk, apa yang baik dan jahat, apa yang adil dan tidak adil.
2)    Sekolah skeptis Akademia
Aliran yang kedua ini memang lahir dlm Akademia yang didirika oleh plato. Seorang tokoh alirn ini, Arkesilaos berpenadapat, bahwa cita-cita orang bijaksana itulah bebas dari berbuat salah. Kaum Epikurus dan stoa mengatakan bahwa memperoleh kebenaran yng sungguh-sungguh dengan membentuk dalm pikiran hasil pandangan
Kemudian tokoh lain aliran ini adala karneades, berpenapat bahwa kriterium bagi kebenaran tidak ada. Pemandangan-pemandngan tak pernah dapt membedakn dengan sahih panangan yang benar dan yang salah. Di kemukakan oleh karneadestiga tingkat kemungkinan. Pertama pemandangan itu mungkin benar. Kedua, kemungkinan itu tidak dapat dibantah. Ketiga, kemungkinan itu tidak dapat dibantah dan telah ditinjau dari segala sudut.
Dengan keterangan karneades ini filosof skeptis yang bermula engan ragu-ragu akhirnya berbelok ke jalan tengah. Menjadi filosofi untuk keperluan hidup sehari-hari. Kemudian lagi sikap skeptis bermula itu berganti dengan sikap eklektika, memilih mana yang terpakai saja. Aliran ini juga keluar dari Akademia yang dibangun oleh plato dan sepeninggalnya bnyak sekali berganti pemimpin dan berganti aliran. Kaum elektika dan dari ajaran Stoa. Aliran ini kemudian pindah ke Roma. Penganjurnya yang utama di sana ialah Cicero. 

D.   Neo – Platonisme
Secara keseluruhan Hellenisme Romawi mempunyai corak yang sama, dalam perkembangannya dapat dibagi kedalam tiga masa.
Masa pertama inilah abad ke-5 smpai pertengahan abad sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat didalamnya ialah:
a.     aliran Epicure; pendirinya Epicurus. Ajarannya ialah kebahagiaan manusia merupakan tujuan yang utam.
b.     Aliran  Stoa: pendirinya Zeno. Ajrannya ialah agar manusia jngan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesediaan (jadi menahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
Aliran ini merupakan rangkaian terakhir di fase Hellenisme-Romawi, yaitu fase mengulang yang lama, bukan fase yang menciptakan yang baru. Aliran ini juga maih berkisar pada filsafat yunani, tasawuf timur, dan memilih dari sana-sini kemudian digabungkan. Karena dasar filsafatnya ialah kepercayaan rakyat yang mempercayai kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, maka didalam neo-platonisme tasawuf timur. jadi, neo-platonisme mengandung unsur-unsur kemanusiaan (hasil usaha pemikiran manusia), keagamaan, dan keberhasilan (bukan agama langit).
Neo-platonisme dengan unsur-unsur tersebut datang dan bersatu dengan kaum muslimin melalui aliran masehi timur dekat, tetapi dengan baju lain, yaitu tasawuf timur dan pengakuan akan keesaan Tuhan, yang pertama dengan ketunggalan yang sebenar-benarnya.
Perbeadaan neo-platonisme dengan aliran iskandari yang berkembang sejak pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 ialah:
Neo-Platonisme
Aliran Iskandariah
1.     berkisar pada segi metafisika pada filsafat yunani yang mungkin dalam beberapa hal berlawanan dengan agama masehi.
2.     lebih banyak mendasarkan pikirannya pada seleksi dan pemaduan
1.     lebih condong kepada matematika serta ilmu alam, meninggalkan lapangan metafiika, dan tidak berlawanan dengan agama masehi.
2.     lebih banyak membuat ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat.
 Platinus adalah tokoh yang terpenting. Ia mendasarkan atas dua dialektika (dua jalan), yaitu:
-         Dialektika menurun
-         Dilektika menarik
Dialektika menurun digunakan untuk menjelaskn wujud tertinggi (the Highest Being, atau the First, atau At-Tabiatul-ula, atau Wujudul Awwal) dan cara keluarnya alam dari-Nya.
Dengan penjelasan terhadap wujud tertinggi itu Platonus terkenal dengan teorinya Yang Esa atau Esanya  Platonus. Dengan penjelasan kedua, yaitu keluarnya alam dari Yang Esa, ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua wujud, termasuk didalamnya wujud pertama (Tuhan), merupakan rangkaian mata rantai yang kuat erat, dan terkenal dengan istilah kesatuan wujud (wihdatul-wujud).
Pada akhir masa kuno. Neo-platonisme merupakan aliran intelektual yang dominan di hampir seluruh wilayah Hellenistik, sehingga seakan-akan neo-platonisme bersaingan dengan pandangan dunia yang berdasarkan agama kristen. Perhyrios (232-301 M) murid platinus menulis suatu karya yang dengan tajam menyerang agama kristen.
Namun pada tahun 529 M kaisar Jurtianus dari Byzantium pelindung agama kristen menutup semua sekolah filsafat Yunani di Athena. Peristiwa itu diangagap sebagai akhir masa yunani purba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar